Perbandingan Perancah Kayu Konvesional dengan Perancah Baja Konvesional atau Scaffolding terhadap Kerusakan Hutan Akibat Pelaksanaan Konstruksi Beton

  • Azza Arena Politeknik Negeri Pontianak
  • Syafarudin Syafarudin Politeknik Negeri Pontianak
Keywords: perbandingan, perancah kayu konvesional, perancah baja konvesional, kerusakan hutan

Abstract

Keprihatinan kayu yang sering digunakan sebagai perancah semakin sulit didapat. Hutan sebagai bahan baku kayu semakin berkurang. Penebangan hutan dihadapkan pada permasalah yang semakin hari semakin serius,  jika cara pembetonan konvesional terus berlanjut pada pembangunan gedung-gedung bertingkat, dapat dibayangkan dampaknya terhadap kerusakan hutan dari penebangan hutan secara liar dan eksploitasi yang besar-besaran dan tidak terkendali hutan kita menyusut cukup banyak sehingga saat ini sering kita hadapi kelangkaan kayu sebagai bahan bekesting dalam pengerjaan proyek konstruksi di samping masalah-masalah akibat mulai rusaknya hutan seperti banyaknya bencana alam banjir, akan proyek, tanah longsor, perubahan iklim yang ekstrim, dan lainnya. Hingga saat ini berdasarkan hasil penelitian kerusakan hutan akibat pelaksanaan konstruksi beton pada pembangunan gedung di Pontianak menggunakan metoda kayu konvesional berpotensi menimbulkan dampak kerusakan hutan yaitu dapat dilihat pada luas lantai 76,43 m2 untuk lantai satu dapat merusak hutan akibat dari penebangan untuk kepentingan pembangunan adalah seluas ±3 hektar dari ±7.385 batang pohon yang harus ditebang. Dari data ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga hutan yang terus berkurang untuk diambil kayunya. Pada pelaksanaan perancah baja konvesional perbandingan tidak berpengaruh pada kerusakan hutan berdasarkan luasan lantai scaffolding berjumlah 616 set. Hasil perbandingan penelitian yang telah dilakukan pada perancah kayu konvesional dan perancah baja konvesional.

Published
2020-07-17
Section
Articles