ANALISIS KUAT TEKAN BETON MENGGUNAKAN AGREGAT HALUS PASIR PANTAI JAWAI DAN AGREGAT KASAR BATU PECAH DI KABUPATEN SAMBAS KALIMANTAN BARAT
ANALISIS KUAT TEKAN BETON MENGGUNAKAN AGREGAT HALUS PASIR PANTAI JAWAI DAN AGREGAT KASAR BATU PECAH DI KABUPATEN SAMBAS KALIMANTAN BARAT
Abstrak
Beton merupakan suatu bahan komposit (campuran) dari beberapa bahan yang bahan pengikat dasarnya
terdiri dari kombinasi agregat halus, agregat kasar, air dan bahan tambahan yang berbeda dalam campuran
tertentu. Pasir merupakan bahan pengisi yang dipakai bersama bahan pengikat dan air untuk membentuk
campuran yang padat dan keras. Pasir pantai yang ada di daerah Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas berpotensi
karena ketersediaannya dalam jumlah besar yaitu sepanjang 42,53 km, pantai berpasir dan bebatuan dibukit desa
Ramayadi yang jumlahnya cukup banyak.
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dan mengetahui nilai kuat tekan beton yang dihasilkan dari
beton dengan menggunakan pasir pantai sebagai pengganti agregat halus yang diberi perlakuan (dicuci dan tidak
dicuci) serta dengan menggunakan agregat kasar berupa batu pecah dari daerah Kecamatan Jawai Selatan,
Kabupaten Sambas. Penelitian dilakukan pada benda uji kubus ukuran panjang 15 cm, lebar 15 cm dan tinggi 15
cm.
Pengujian yang dilakukan yaitu pengujian kuat tekan beton pada umur 7 hari dan 14 hari. Adapun hasil
pengujian pada umur 7 hari untuk bahan pasir pantai tanpa dicuci dan pasir pantai yang dicuci masing-masing
menunjukan angka kuat tekan rata-rata 114,0514 kg/cm2 dan 153,9535 kg/cm2. Sementara hasil pengujian pada
umur 14 hari untuk bahan pasir pantai tanpa dicuci dan pasir pantai yang dicuci masing-masing menunjukan angka
kuat tekan rata-rata 142,6046 kg/cm2 dan 209,8392 kg/cm2.
Referensi
Tentang Analisa Saringan Agregat Halus
dan Kasar. Badan Standar Nasional,
Bandung.
[2] Anonim, 03-1969-1990. Metode Pengujian
Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat
Kasar. Badan Standar Nasional, Bandung.
[3] Anonim, 03-1970-1990. Metode Pengujian
Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat
Halus. Badan Standar Nasional, Bandung.
[4] Anonim, 03-1971-1990. Metode Pengujian
Kadar Air Agregat. Badan Standar Nasional,
Bandung.
[5] Anonim, 03-1971-1990. Metode Pengujian
Slump Beton. Badan Standar Nasional,
Bandung.
[6] Anonim, 03-1973-1990. Metode Pengujian
Berat Isi Beton. Badan Standar Nasional,
Bandung.
[7] Anonim, 03-1973-1990. Metode Pengujian
Kuat Tekan Beton. Badan Standar Nasional,
Bandung.
[8] Anonim, 03-2834-2000. Tata Cara
Pembuatan Rencana Campuran Beton
Normal. Badan Standar Nasional, Bandung.
[9] Anonim, 2493:2011. Tata Cara Pembuatan
dan Perawatan Benda Uji Beton di
Laboratorium. Badan Standar Nasional,
Bandung.
[10] Anonim, 2847-2002: Persyaratan Beton
Struktural Untuk Bangunan Gedung. Badan
Standar Nasional, Bandung.
[11] Anonim, 2847-2013: Persyaratan Beton
Struktural Untuk Bangunan Gedung. Badan
Standar Nasional, Jakarta.
Anonim, 2847-2019: Persyaratan Beton
Struktural Untuk Bangunan Gedung. Badan
Standar Nasional, Jakarta.
[13] Asroni, A. 2010. Balok dan Pelat Beton
Bertulang. Yogyakarta: Graha Ilmu.
[14] Hartatik, N., Gati S. U., dan Novi R. 2014.
Karakteristik Campuran Beton Aspal (ACWC) dengan Penambahan Abu Slag Baja
Sebagai Bahan Pengganti Filler. Jurnal
llmiah Teknik Sipil KERN, Vol 4(1).
[15] Junaidi, A. 2015. Pemanfaatan Abu Batang
Pisang Sebagai Bahan Tambah Untuk
Meningkatkan Kuat Tekan Beton. Berkala
Teknik, Vol 5(2): 823-836.
[16] Juwarnoko, 2019. Pengaruh Penambahan
Serat Kawat Bendrat Pada Campuran Beton
Terhadap Kuat Tekan Dan Kuat Tarik Beton.
[17] Mulyono, T. 2006. Teknologi Beton.
Yogyakarta: Andi.
[18] Neville, A. M and Brook, J. J. 1987.
Concrete Technology. New York: Logman
Scientific.
[19] Oberlyn, J. 2015. Hubungan Perawatan
Beton dengan Kuat Tekan (Pengujian
Laboratorium). Jurnal Poliprofesi, Vol.
10(1): 1-6, ISSN: 1979-9241.
[20] Ramang, R., Dantje A. T. S., dan Muhamad
I. 2014. Studi Kelayakan Teknis Penggunaan
Pasir Laut Alor Kecil Terhadap Kualitas
Beton yang Dihasilkan. Jurnal Teknik Sipil,
Vol 3(2): 111-124.
[21] Rencana Program Investasi Jangka
Menengah (RPIJM) 2015-2019 Bidang Cipta
Karya.
[22] Riyadi, Muhtarom dan Amalia. 2005.
Teknologi Bahan I. Jakarta: Politeknik
Negeri Jakarta.
[23] Tjokrodimuljo, K. 1996. Teknologi Beton.
Yogyakarta: UGM.
Anonim, 2847-2019: Persyaratan Beton
Struktural Untuk Bangunan Gedung. Badan
Standar Nasional, Jakarta.
[13] Asroni, A. 2010. Balok dan Pelat Beton
Bertulang. Yogyakarta: Graha Ilmu.
[14] Hartatik, N., Gati S. U., dan Novi R. 2014.
Karakteristik Campuran Beton Aspal (ACWC) dengan Penambahan Abu Slag Baja
Sebagai Bahan Pengganti Filler. Jurnal
llmiah Teknik Sipil KERN, Vol 4(1).
[15] Junaidi, A. 2015. Pemanfaatan Abu Batang
Pisang Sebagai Bahan Tambah Untuk
Meningkatkan Kuat Tekan Beton. Berkala
Teknik, Vol 5(2): 823-836.
[16] Juwarnoko, 2019. Pengaruh Penambahan
Serat Kawat Bendrat Pada Campuran Beton
Terhadap Kuat Tekan Dan Kuat Tarik Beton.
[17] Mulyono, T. 2006. Teknologi Beton.
Yogyakarta: Andi.
[18] Neville, A. M and Brook, J. J. 1987.
Concrete Technology. New York: Logman
Scientific.
[19] Oberlyn, J. 2015. Hubungan Perawatan
Beton dengan Kuat Tekan (Pengujian
Laboratorium). Jurnal Poliprofesi, Vol.
10(1): 1-6, ISSN: 1979-9241.
[20] Ramang, R., Dantje A. T. S., dan Muhamad
I. 2014. Studi Kelayakan Teknis Penggunaan
Pasir Laut Alor Kecil Terhadap Kualitas
Beton yang Dihasilkan. Jurnal Teknik Sipil,
Vol 3(2): 111-124.
[21] Rencana Program Investasi Jangka
Menengah (RPIJM) 2015-2019 Bidang Cipta
Karya.
[22] Riyadi, Muhtarom dan Amalia. 2005.
Teknologi Bahan I. Jakarta: Politeknik
Negeri Jakarta.
[23] Tjokrodimuljo, K. 1996. Teknologi Beton.
Yogyakarta: UGM.
##submission.copyrightStatement##
##submission.license.cc.by4.footer##